Tak lama pemukul gendang menunjukkan aksi

Tak lama pemukul gendang menunjukkan aksi, diikuti para pemain gamelan semar pegulingan dengan memunculkan suara nang ning nong neng. Para penonton pun langsung terdiam. Dalam gending pembukaan, penari Barong muncul. Kaki bergerak disusul gerakan lain, termasuk bagian pinggul. Tak lama sang kera pun datang, melucu dan menggoda hingga para penonton pun terbahak hingga tiga penyerang datang.
Panggung pun berganti pemain, ada dua penari berlenggok. Inilah babak pertama. Keduanya adalah pengikut Rangda yang tengah mencari para pengikut Dewa Kunthi. Tari Barong memang menggambarkan pertarungan antara kebaikan dan kejahatan. Rangda-lah dalam panggung ini yang menjadi bagian dari sisi buruk. Dicuplik dari kisah Mahabharata, rangkaian Tari Barong menunjukkan kondisi yang ada dalam kehidupan, selalu ada sisi baik dan buruk. Keduanya bertarung, dan tak ada yang menang. Memunculkan tokoh-tokoh tak hanya Barong dan Rangda, tapi juga Dewi Kunti dan anaknya Sahadewa, kemudian Dewa Siwa, serta Kalika, salah satu pengikut Rangda. Di akhir pertunjukan digelar Tari Keris yang dibawakan sejumlah pria.
Weh, kurang lengkap rasanya bila tak
singgah di Pantai Gapang. Pantai ini berada
persis di pinggir jalan rtama,yang
menghubungkan Kota Sabang dan Tugu
Titik Nol Kilometer, di ujung barat pulau.
Pantai ini menjadi salah satu pantai
favorit wisatawan karena memiliki panorama
yang indah. Airnya dangkal. Terumbu karang dan
ikan hias warna-warni menjadi pemandangan
yang menarik untuk dinikmati.
Tak heran, tempat ini menjadi lokasi
sno rkeling y ang mengasyikkan.
Semua prosesi tersebut menandakan betapa budaya yang hidup di Kabupaten Tapin lni mampu
menciptakan ikatan emosional antara suku Banjar dan Dayak, yang senantiasa harmonis, meski dengan pakaian yang berbeda. Menuju ke Kota Rantau, lbu kota Kabupaten Tapin, bisa melalui
Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin yang terletak di Kota Madya Banjarbaru. Dari bandara, bermobil
ke arah utara melalui .jalan Trans Kalimantan, melewati Kota Martapura yang terkenal sebagai penghasil intan. Dari Martapura menuju ke Kota Rantau ditempuh sekitar dua jam ataukurang lebih 70 kilometer.
Kabupaten Tapin juga dikenal dengan keragaman wisata budaya. Salah satu yang menarik adalah prosesi dan ritual budaya Baayun Anak. Karena pelaksanaannya bertepatan dengan perayaan Maulid, maka upacara ini disebut juga Baayun Maulid. Baayun merupakan tradisi menidurkan anak dalam posisi didudukkan dalam ayunan. Ayunan
yang digunakan dibuat tiga lapis dengan kain sarigading (sasirangan) pada lapisan pertama, kain kuning pada lapisan kedua dan kain bahalai (sarung panjang tanpa sambungan) pada lapisan ketiga.
legenda, Gua Batuhapu ini diyakini sebagai Raden Penganten yang dikutuk oleh ibunya menjadi batu.
Selain gua, panorama alam yang juga sayang untuk dilewatkan adalah Gunung Lampinit. Gunung ini terletak di Kecamatan Bungur,15 kilometer dari Kota Rantau. Atau, kita bisa juga singgah ke obyek wisata Peranginan Ratu yang berada dl Kecamatan Lokpaikat.Jaraknya, sekitar 12 kilometer dari Kota Rantau. Peranginan Ratu adalah sebuah danau yang dikelilingi oleh pegunungan dengan aneka jenis
burung. Di saat matahari terbenam, suasananya menjadi sangat indah, dan pastinya eksotis.
k di payakumbuh

Keunikan lain juga bisa dinikmati di etape kelima, yang dimulai dari Kotalkan Bilih Danau Singkarak
Payakumbuh. Di kota ini, ternyata tak hanya pembalap sepeda yang berlomba. ltik pun ikut adu pacu permainan tradisional, yang disebut Pacu
Itiak. Permainan yang sudah muncul beberapa abad lalu ini menjadi ikon pariwisata dan menjadi kebanggaan warga Payakumbuh. Turis lokal dan asing yang melancong ke Payakumbuh tak akan melewatkan lomba itik terbang yang berpacu hingga ketinggian 3.000 meter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *