Polemik Impor Garam

Polemik impor garam ternyata sudah terjadi sejak puluhan tahun yang lalu. Majalah Tempo edisi 12 Agustus 1972 pernah mengulas masalah tersebut dalam tulisan berjudul “Garam Makin Sempoyongan”.
.
Saat itu Kepala Bulog Ahmad Tirtosudiro mengaku malu karena harus mengimpor garam di tengah berlimpah ruahnya bahan baku. “Mengapa Negara kepulauan seperti Indonesia sampai bisa mengimpor garam?” ucapnya. Ahmad tidak perlu merasa malu lantaran Perusahaan Negara Garam mengimpor garam sejak 17 tahun sebelumnya. .
Bulog akhirnya bekerjasama dengan Departemen Tenaga Kerja Transmigrasi dan Koperasi membeli garam rakyat sebanyak 10 ribu ton dengan harga Rp 3 per kilogram. Permasalahan kekurangan garam saat itu sebenarnya disebabkan oleh merosotnya produksi PN Garam dari 440 ribu ton tahun 1962 menjadi hanya 185 ribu ton. .
PN Garam menyalahkan musim sebagai faktor utama yang menurunkan produksi. “ Sifat produksi garam amat tergantung pada musim”, kata Sentot, caretaker Direktur PN Garam.

Restoran di terminal 3 Bandara Soetta

SIANG TIBA, perut sudah pasti keroncongan. Berburu makanan di Terminal 3 tentu mengasyikkan, karena banyak pilihan. Restoran Laota, salah satunya. Dikenal luas di Pulau Dewata, di sini pun banyak diminati pengunjung. Tlumas PT Angkasa Pura 11, Ayu Wulandira, mengakui Laota belakangan menjadi tempat makan hit yang diburu orang ketika bertandang ke Terminal 3. “Soalnya kan jarang ada (restoran ini) di Jakarta,” tuturnya.
Laota, yang terletak di samping counter check-in, menjadi daya tarik lantaran aro-manya yang sedap. Memang benar, kala mendekat, harum daging unggas panggang menusuk penciuman. Bebek dan ayam utuh yang telah dimasak hingga berwarna kccoke-latan dan digantung di etalase kaca pun jadi pemandangan yang membuat perut makin keroncongan.
Di depan kasir, orang sudah mengantre untuk memesan. Beberapa di antaranya yang berniat untuk makan di tempat bahkan dito-lak lantaran kursi sudah penuh. “Kami baru menyediakan 24 kursi di sini. Mejanya ada 12. Sementara baru segini. Nanti akan pindah ke food court. Kalau sudah jadi, (restoran) kami akan lebih besar dan nyaman buat calon penumpang,” kata Foni Priskila, supervisor sekaligus manajer restoran.
Sementara itu, soal menu, ada beberapa yang menjadi andalan, yakni bubur bebek, nasi hainam bebek panggang, dan nasi hainam ayam panggang. Harganya beragam, mulai Rp 50 ribu. Bubur bebek panggang dan nasi hainam bebek, misalnya, dijual seharga Rp 60 ribu. Sedangkan nasi dengan bebek panggang dan ayam panggang mix diban-derol Rp 65 ribu. Bisa juga membeli bebek panggang per ekor untuk dijadikan oleh-oleh. Harganya Rp 400 ribu satu ekor.
Saking ramainya, dalam sehari, Laota bisa menghabiskan 20 ekor bebek dan 20 ekor ayam. Restoran yang beroperasi 24 jam ini paling ramai dikunjungi kala pagi hari waktu sarapan dan siang pada waktu makan siang. Nah, memang tak ada salahnya mencoba bu¬bur dengan cita rasa Bali yang kental sebelum melakoni perjalanan menggunakan pesawat Garuda

Jonru Akhirnya Divonis Bersalah

Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Timur menyatakan Jon Riah Ukur alias Jonru Ginting bersalah dalam perkara penyebaran ujaran kebencian. Perbuatannya dinilai terbukti secara sah dan meyakinkan dalam persidangan. “Menjatuhkan pidana kepada terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara selama 1 tahun dan 6 bulan dan denda sejumlah Rp 50 juta,” kata Ketua Majelis Hakim Antonius Simbolon pembacaan vonis di Pengadilan Negeri Jakarta Timur hari ini, Jumat, 2 Maret 2018. “Dengan ketentuan, apabila denda tersebut tak dibayar, diganti dengan pidana kurungan selama tiga bulan.”
Antonius mengatakan, Jonru Ginting terbukti bersalah dengan melakukan beberapa perbuatan dengan sengaja dan tanpa hak dalam menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian. Tindakan aktivis sosial media itu dinilai dapat menyebabkan permusuhan individu dan atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) sebagai perbuatan berlanjut.

Jonru Ginting didakwa berlapis. Dakwaan pertama dijerat dengan Pasal 28 ayat 2 juncto 45a ayat 2 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 yang diperbarui menjadi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Dakwaan selanjutnya Pasal 4 huruf b angka 1 juncto Pasal 16 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 tentang Diskriminasi Ras dan Etnis juncto Pasal 64 ayat 1 KUHP. Sedangkan yang ketiga, Pasal 156 KUHP juncto Pasal 64 ayat 1.

Setelah pembacaan vonis, Jonru bersama kuasa hukumnya menyatakan sedang pikir-pikir dulu untuk mengajukan banding atas vonis tersebut. Jaksa Penuntut Umum pun menjawab yang sama ketika ditanya oleh Majelis Hakim. “Setelah saya berdiskusi, jawaban saya sama dengan jaksa untuk pikir-pikir dulu,” ucap Jonru.

Stamina menurun saat bangun di pagi

Sering mengeluh malas dan stamina menurun saatbangun di pagi hari? Coba cermati apakah Anda tidur di ruang yang terang bendcrang? Jika iya, maka tak heran jika mood di pagi hari langsung drop. Salah satu penelitian dari Ohio State University menyebutkan bahwa sinar berlebihan saat tidur malam, akan memengaruhi mood, bahkan bisa depresi.

Disebutkan bahwa papa ran sinar buatan memang akan mengganggu proses biologis seseorang, dan ujung-ujungnya, akan mengganggu jam kerja tubuh. TYagisnya, dalam jangka panjang, kondisi ini bakal meningkatkan risiko serangan jantung, stroke, dan kanker.

Sinar lampu buatan yang sudah ada sejak ioo tahun lampau ini, bisa berasal dari lampu jalan, lampu mobil, lampu rumah, sampai gadget. Berbagai penelitian terkait sinar buatan ini dilakukan di berbagai lembaga penelitian. Gara-garanya, sinar lampu buatan ini memancarkan cahaya biru ke otak. Nah, sinar biru itu bisa meningkatkan produksi melatonin dari otak. Melatonin ini biang keladi seseorang sulit tidur. Begitu disebutkan peneliti dari Loughborough Univei Jim Home.
Nomialnya, Jika gelap datang, mak: mata menerima sinyal untuk piodt melatonin dari kelenjar di otak dan ‘memerintahkan’ tubuh untuk beristirahat. Demikian sebaliknya s; siang hari. Masalah yang muncul ac: saat malam hari, lampu-lampu yan menerangiini akan’menipu’ mata. Akibatnya, jam tubuh pun terganggi

Akibat lainnya adalah meningkatni risiko kanker. Sebuah penelitian yai dirilis dalam European Journal of Cancer Prevention, mengungkapkai paparan sinar buatan akan meningkatkan risiko kanker payuda sebesar 17 persen. Para peneliti menduga, sinar biru dari lampu buatan ini akan mengurangi produk melatonin dan meningkatkan produ hormon estrogen yang memicu kanl payudara.
Sementara itu penelitian terbani yang dirilis The New England Journal of Medicine, Juni lalu menyebutkan cahaya dari ponsel dapat mcnyabota penglihatan Anda, walaupun untuk sementara. Ini terutarna ketika Anda menggunakannya rjadi pada seorang yang mengalami hatan di mata li malam hari. Pada nukan seorang tahun yang ngan penglihatan a selama sekitar 15 setelah dia bangun. lami transient Iness atau kebutaan smartphone selama bulan.
xit kemudian kaian pemeriksaan scan MRI, dan tin, dokteryang foingungan karena n sesuatu yang ehatan dua wanita :etika mereka dibawa , misteri itu mulai

kebutaan untuk sementara. Namun Plant mengatakan, kebutaan sementara tersebut sebenamya mudah dihindari, jika seseorang melihat smartphone di kamar yang gelap dengan kedua mata.

Sementara itu, dokter Rahul Khurana, seorang juni bicara dari American Academy of Ophthalmology mengatakan,hipotesis tersebut menarik utuk dikaji, namun dua kasus tidak cukup untuk dijadikan landasan umum bahwa melihat ponsel di kegelapan dengan satu mata dapat mcnyebabkan kebutaan sementara. Ia pun meragukan jika kasus tersebut dapat terjadi ke seluruh pengguna ponsel.

Khurana yang juga mengaku pengguna smartphone berat itu, mengaku ia dan istrinya mencoba skenario yang sama, namun justru malah sulit melihat
layar ponsel dengan satu mata di kegelapan. “Sangat aneh,” katanya.

Meskipun kebutaan sementara akibat memandang layar smartphone dengan satu mata di dalam ruangan gelap ini tidaklah berbahaya dan masih dalam proses penelitian lebih lanjut, serta mungkin tidak akan terjadi jika Anda berbaring dan menggunakan kedua mata. Namun Khurana menyarankan ada baiknya Anda tetap menghindari menggunakan smartphone pada ruangan dalam kondisi gelap demi menghindari dampak berbahaya yang dapat terjadi pada mata Anda.

Cahaya buatan dari lampu atau pun smartphone, itu memang sebaiknya digunakan dengan bijak. Jika tidak, tak heran jika mereka malah jadi musuh dalam selimut.

Sate Lilit Klungkung nan Enak dan Mantap

Masakan dari ikan lautnya. Sate Lilit Klungkung, siapa tak kenal? Sate ikan yang dibalutkan di batang serai itu sudah terkenal seantero jagat. Hidangan asli Klungkung lainnya, utamanya dari Nusa Penida adalah l.edok Hang Noesa. Yaitu liidangan serupa bubur tapi terdiri dari campuran singkong, jagung, kacang tolo dan juga say uran hijau (bayam dan kemangi). Rasanya segar, perpaduan rempah seperti daun jeruk, daun salam , kencur dan kunyit terasa segar di lidah. Hidangan yang dulu, konon disebut makanan kaum marjinal ini, kini semakin digemari semua kalangan. Dari perpaduan jenis makanan serta rempah yang dicampurkan, tak heran jika makanan yang satu ini disebut sebagai makanan sehat.

Satu lagi makanan khas daerah tersebut adalah Karang Ampel, yaitu hidangan yang terdiri dari nasi dicampur parutan singkong, bakar ikan tuna, dan kuah ikan yang berisi potongan ikan tuna, irisan sereh, dan batang kecombrang. Rasanya ? Tak ada bau amis ikan. Aroma kunyit, bawang putih dan cabe rawit mendominasi rasa kuah sup saat menyeruputnya.
Masih di Nusa Penida, Anda juga bisa mengunjungi dua Pura terkenal, Pura Dalem Ped dan Puri Goa Giri Puteri. Pura Dalem Ped dikenal sebgai pura paling besar di Nusa Penida dan lokasinya di Desa Ped, Sampalan, sekitar 50 meter sebelah selatan bibir pantai lautan Selat Nusa. Sementara Pura Goa Giri Putri terletak di Dusun Karangsari, Desa Pakraman Suana, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Mencapai pura ini, Anda harus menanjaki tangga menuju lokasi yang letaknya 150 meter di atas permukaan laut. Kemudian masuk melalui lubang kecil seukuran satu orang dewasa.
Bayangan gua gelap dan bau sirna saat menjejakkan kaki di mulut gua tersebut pertamakalinya. Suasana terang benderang karena adanya penerangan di beberapa tempat, lantai dasar pun sudah diplester di beberapa bagian. Langit-langit serta dindingnya dari stalagnit dan stalagtit. Sesekali percikan air jatuh di tangan, juga kelclawar terbang melintas gua. Ruangan gua juga lebar dan tinggi, dan kabarnya bisa menampung 5000 orang.
Menurut salah satu Pemangku Pura Giri Putri, Mangku Nyoman Katos, Puta Goa Putri ini memiliki beberapa pelinggih, Di antaranya Pelinggi Gana Pari untuk memohon izin. Pelinggih I Iyang Wasuki tempat memohon kesejahteraan, Pelinggih Dewi Gangga untuk permohonan meruwar, Pelinggih Hyang Giripati, Pelinggih Giri Putri tempat air suci berada, dan Pelinggih Hyang Siwa Amerta (tempat memohon kesejahteraan dan Dewi Kwan Im (memohon kasih sayang).

Bagi Anda yang geniar kain lokal, sebaiknya jangan lewatkan singgah di pusat Tenun Rangrang di Desa Pejukutan, Nusa Penida, di sinilah para pengrajinnya menenun Kain Tenun Rangrang yang terkenal itu. Karakteristik Tenun rangrang ada pada motifnya yang sebagian besar berbentuk segitiga dengan wama cerah. Giri lainnya adalah adanya jarak di antara motifnya, karena itulah tenun disebut Tenun Rangrang. Rangrang dalam bahasa daerah setempat berarti arang-arang atau jarang-jarang, ada jarak di antara satu dan lainnya.

Adalah Pedoman yang kini menjadi pengelola rumah tenun , itu yang mengumpulkan dan melatih para penenun di daerah tersebut. Kini motif yang dibuat sudah mencapai puluhan. Yang terkenal adalah motif wajik, bianglala, pucuk pandan, pantai (mirip gelombang), dan motif air.

Wisata di Sumbawa Barat

Maluk, sebuah kota kecamatan di Kabupaten Sumbawa Barat yang menjadi pilihan saya menginap malam pcrtama di pulau yang berada di scberang Lombok ini. Tak jauh dari Taliwang, Maluk mem-punyai pantai berpasir putih nan lembut. Pukul 06.30 pagi saya sudah menginjak obyek wisata ini. Huruf MALUK mcnghiasi bagian depan pantai. Scpagi itu jajaran warung masih belum buka.
Pantai yang diapit dua bukit itu hening saat pagi ketika saya mencecap sinar mcntari yang muncul dari balik Bukit Mantun di sisi utara. Mene-robos hingga selatan yang dibatasi Bukit Balas. Segar dan hangat rasanya. Di tengah teluk, ada satu pcrahu nelayan mengais rezeki. Seorang pria berdiri di bagian depan dengan sebilah kayu panjang yang ia pukul keras kc laut. Rupanya, ia tengah menggiring ikan ke jaringnya. Suara motor pcrahu dan pukulannya pun memecah kcheningan.
Teluk yang tenang itu begitu menentcramkan. Namun, di salah satu sisinya, ternyata ada juga gulungan ombak yang digandrungi para pe-selancar. Dikenal sebagai ombak Super Suck, dan di depannya tersedia scjumlah akomodasi sedcrhana. Selepas mandi, melahap nasi kuning, saatnya menyinggahi pantai-pantai lain. Sumbawa Barat adalah surga bagi para pencinta pantai dan ombak. Maluk bukan satu-satunya. Sehari sebelumnya selepas senja, scbenarnya saya sempat mampir ke Pantai Bencte, tepat di depan Pclabuhan Bcnnete. Penuh cahaya di malam hari karena merupakan dermaga khusus PT Newmont Nusa Tenggara.
itu bergaya bak para pemburu ombak, saya pun mencari pan¬tai-pantai lain. Namun tentunya bukan untuk bcraksi dengan papan seluncur. Saya hanyalah penikmat deburan ombak serta balutan pasir lembut di kaki. Perjalanan mengarah ke Se-kongkang Barat. Seperti perjalanan dari Pelabuhan Poto Tano menuju Maluk, Jalan Raya Sekongkang pun cenderung sepi. Hanya sesckali bertemu dengan pengendara roda dua atau roda empat.
Kiri-kanan lahan berbukit-bukit dengan tanaman sebagian mengering. Sebagian dipenuhi pohon jcnis sulur. Hingga bcr-temulah dengan pcrtigaan dengan tulisan Sekongkang. Suasa-na begitu sepi. Mata pun mulai lebih awas, mencari petunjuk. Hingga bertemu papan bewara superbesar yang menunjukkan belum lama ini digelar kompetisi selancar internasional di Pantai Tropical, Sekongkang. Saya dan kawan-kawan menga-baikannya. Namun beberapa meter tak ada tanda lain hingga mobil pun kembali ke tempat tersebut.
Ada sebuah jalan kecil di sebelah papan bewara itu. Seki¬tar 2 kilometer melaju di jalan tanah itu, ada cabang dengan gerbang kecil. Di salah satu sisinya ada tanah berpagar, dan ada tanda bahwa tanah milik sebuah perusahaan. Sedikit ragu, tapi akhirnya kendaraan menerobos jalan kecil. Kurang dari lima menit, terlihat sebuah teluk dengan beberapa pohon di tepian, diapit dua bukit karang. Teluk yang pendek, tapi siang itu menjadi sebuah gambar nan indah di mata saya. Matahari belum terlalu terik, langit begitu biru, ombak bergulung–gulung, dan tentunya pepohonan membuat paduan alam yang sempurna. Rupanya inilah Pantai Lawar.
Merasa bukan satu-satunya pantai di sana, kendaraan kem¬bali ke jalan yang bercabang dan memilih jalan tanah salah satu lagi yang ternyata melebar masih tetap berupa tanah. Tak ada petunjuk sama sckali hingga ada bule muncul dari arah berlawanan dengan sepeda motor dan papan selancar, keyakin-an ada pantai di ujung sana pun muncul. “Ya lurus, ada Pantai Tropical, Pantai Yoyo, ombaknya kcrcn,” ucap pria tersebut, sementara telunjuknya diarahkan ke utara.
Senyum saya dan kawan-kawan pun mengembang. Tak lama memang debur ombak terdengar nyaring, dan di depan mata
terbentang garis pantai yang panjang. Inilah Pantai Yoyo yang menyambung dengan Pantai Rantung. Udara panas mulai menyergap, pasir pantai nan panas terasa menggigit kaki. Saya memilih duduk di gazebo di tepi pantai. Para peselancar beberapa kali lewat. Ada yang berasal Jepang dengan kulit sudah cokelat matang. Dari jauh saya melihat peselancar perempuan berjalan di pasir putih sembari menenteng papannya. Ehmm…. demi ombak, panas pun mereka terjang. Di tengah laut, sejumlah pemain mencoba menari dengan ombak.
Meski tersambung, dua pantai nan panjang itu tidak bisa dilalui kendara¬an. Akhirnya saya dan kawan-kawan kembali ke Jalan Raya Sekongkang, terus melaju ke Jalan Raya Rantung. Scsungguhnya Pantai Yoyo bernama pantai Tropical. Namun, karena ombak¬nya bergulung-gulung seperti yoyo yang tengah berputar, pantai ini di kalangan peselancar dikenal sebagai Pantai Yoyo.
Jalan Rantung Raya juga sepi, hanya kiri-kanan lebih banyak kehijauan.Tiba-tiba saya menemukan papan nama hotel di dekat Bandar Udara Sekongkang. Jalur pacu bandara itu tanpa pesawat terbang. Kendaraan pun terus melaju hingga saya menemukan Nomad Tropical Surf Resort di depan Pantai Tropical. Resort ini memiliki halaman hijau, kolam renang, dan lapangan golf. Siang itu gazebo, tepat di depan pantai, dipenuhi beberapa peselancar yang mendinginkan tubuh dengan minuman segar.
Terik mentari memang begitu tcrasa meski sebentar lagi sore tiba. Pasir pantai masih tcrasa panas, saya memilih duduk di sebuah saung. Ada sepasang turis asing, sang perempuan asal Argetina dan pria dari Prancis. Keduanya peselancar yang selama dua minggu berkeliling Bali, Lombok, dan Sumbawa. Mereka mengaku jatuh cinta pada Sumbawa yang tenang, na-tural, dan tentunya ada gulungan ombak yang mcnggoda.
Tak terasa perut mulai keroncong-an. Saya tinggalkan Tropical, menuju Rantung Beach Bar & Restaurant, menyantap makan siang yang tertunda sembari menunggu langit berubah gelap. Maklum, menurut info yang berseliwer-an di dunia maya, di Pantai Rantung–lah keindahan mentari tenggelam itu bisa direkam. Saatnya saya benar-benar menikmati pantai, kaki pun mengenal pasir yang berbeda-beda, dari butir-an besar, kemudian masuk pasir yang halus. Perjalanan bcrat karena kaki terus terbenam, akhirnya muncul juga warna kuning, merah di langit. Sang Surya pun menyemburkan keindahan di Rantung.